Beranda | Artikel
Khutbah Jumat Syaban: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan
10 jam lalu

Khutbah Jumat Sya’ban: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 4 Sya’ban 1447 H / 23 Januari 2026 M.

Khutbah Jumat Pertama: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan

Seseorang yang mengikuti perlombaan olahraga tanpa latihan sebelumnya tidak akan meraih kesuksesan. Bahkan, pada beberapa meter awal saja ia sudah merasa tidak kuat karena fisiknya tidak terbiasa. Demikian pula dengan kondisi hati; tanpa latihan, seseorang akan sulit mempertahankan istiqamah saat Ramadhan tiba.

Fenomena masjid yang penuh di awal Ramadhan namun menjadi lengang di pertengahan hingga akhir bulan merupakan akibat dari kurangnya latihan diri. Mereka yang tadinya semangat menjadi lemah karena selama ini terbiasa memanjakan syahwat dan mengikuti keinginan hawa nafsu. Seseorang yang tidak melatih diri membaca Al-Qur’an, tidak membiasakan puasa sunnah, dan abai terhadap amal shalih lainnya akan kelelahan di tengah jalan, ibarat pelari jarak jauh yang menghabiskan seluruh tenaganya di kilometer pertama sehingga gagal mencapai garis finis.

Para salafush shalih melatih diri di bulan Sya’ban dengan berbagai macam amalan. Mereka mulai intensif membaca Al-Qur’an, menghidupkan malam dengan shalat tahajud, dan membiasakan puasa sunnah. Inilah cara menghadapi bulan Ramadhan dengan kesiapan penuh. 

Tanpa latihan jiwa (Riyadhatun Nafs), hati akan merasa tidak betah dengan ibadah puasa dan shalat tarawih. Akibatnya, pada akhir Ramadhan, banyak orang justru meramaikan pusat perbelanjaan dan merasa ingin segera meninggalkan bulan suci tersebut.

Seseorang tidak mungkin bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan bila tidak melatihnya sejak sekarang. Banyak kaum muslimin yang waktunya habis untuk hal sia-sia atau bahkan tidak berpuasa karena hatinya merasa ibadah adalah beban yang membosankan. Hal ini terjadi karena mereka selalu mengikuti hawa nafsu dan terbiasa berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelezatan ibadah tidak akan pernah bersatu dengan kenikmatan syahwat dalam satu hati. Apabila seseorang lebih menyukai kenikmatan syahwat, ia tidak akan pernah merasakan manisnya iman. Sebaliknya, ketika seseorang merasakan nikmatnya ibadah, ia akan menjauhi kenikmatan syahwat yang melalaikan hati dari Allah ‘Azza wa Jalla. 

Persiapan diri harus segera dilakukan menuju sebuah momentum yang sangat agung, yaitu bulan Ramadhan. Pada bulan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerdekakan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Setiap mukmin tentu mengharapkan pembebasan dari api neraka tersebut, namun pencapaiannya bukanlah perkara yang mudah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Dan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka, dan hal itu terjadi pada setiap malam (di bulan Ramadhan).” (HR. Tirmidzi)

Meraih kemuliaan tersebut membutuhkan semangat, kekuatan, serta kecintaan yang tulus terhadap ibadah itu sendiri. Hal ini mengingatkan pada peristiwa besar ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak menjalani Isra Mi’raj. Sebelum bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dada beliau dibelah, jantung beliau dikeluarkan, dan dibersihkan dari segala kotoran.

Demikian pula dalam menghadapi bulan Ramadhan, seorang hamba sangat membutuhkan kebeningan dan kebersihan hati. Kesucian jiwa tersebut dapat diupayakan dengan memperbanyak istighfar dan senantiasa bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Khutbah Jumat Kedua: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan

Upaya melatih jiwa (Riyadhatun Nafs) agar mencapai kemuliaan membutuhkan dua perkara utama. Tanpa kedua landasan ini, transformasi hati menuju ketaatan akan sulit terwujud.

1. Kontinuitas dan Kesinambungan Latihan jiwa harus dilakukan secara kontinu dan terus-menerus. Sesuatu yang hanya dilakukan satu atau dua kali tidak akan memberikan pengaruh yang mendalam, bahkan tidak akan pernah menjadi sebuah kebiasaan. Keberhasilan dalam melawan hawa nafsu dan syahwat sangat bergantung pada rutinitas dalam melawan rasa berat saat beribadah. 

Sangat memprihatinkan apabila seseorang bersedia latihan setiap hari dan bersabar menahan lelah demi mendapatkan fisik yang kuat atau kemampuan lari yang hebat, namun justru tidak sabar dalam melatih jiwanya. Padahal, latihan jiwa jauh lebih agung dan penting karena merupakan bekal utama yang dibutuhkan untuk kehidupan setelah kematian.

Download mp3 Khutbah Jumat Sya’ban: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat Sya’ban: Melatih Jiwa Untuk Menyambut Ramadhan” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56010-khutbah-jumat-syaban-melatih-jiwa-untuk-menyambut-ramadhan/